Jangan Tahan Niat Untuk Memberi

Pernahkah kita mengalami pergumulan dalam hati antara hendak memberi atau tidak? Misalnya, saat berkendara dan berhenti di lapu merah kita melihat ada seorang yang minta-minta di persimpangan jalan dan hati tergerak untuk memberi namun akhirnya ada pergumulan dan memutuskan tidak memberi. Namun setelah lampu hijau dan mobil berlalu, ada penyesalan serta rasa bersalah mengapa tadi tidak memberinya? Lalu akan bermunculan alasan mengapa tidak jadi memberi. Ada peraturan dilarang memberi kepada pengemis, tidak mendidik, turut andil menumbuhkan sifat malas dan macam-macam alasan lainnya.

Apa benar seperti itu? Apakah bukan karena tidak rela milik kita berkurang, merasa bahwa uang yang kita cari adalah untuk kita nikmati sendiri. Kita tidak rela berbagi dengan pihak lain termasuk kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Hati kita tak biasa melakukan kebaikan untuk membantu orang lain dengan apa yang kita miliki.

Penulis Amsal juga mempunyai pandangan yang sama saat melihat kondisi kehidupan masyarakat saat itu dan menulis : “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Amsal 3:27).

Saat ini ditengah pandemi covid-19 yang entah kapan akan berakhir, banyak saudara kita yang mengalami krisis emosi dan juga ekonomi yang membutuhkan uluran tali asih. Betapa banyak penderitaan dan air mata terjadi disekitar kita yang merupakan fakta bahwa dunia ini perlu ditata. Buka mata dan buka hati untuk saling membantu yang membutuhkan dengan apa yang kita punya.

Ada sedikit berikan sedikit yang penting ikhlas dan bermanfaat. Mungkin kita tidak kaya dengan harta melimpah, tapi kita bisa memberi dari keterbatasan yang ada. Memberi tidak harus dengan materi tetapi membuat orang lain senang, terhibur dan merasa “di orang kan” itu juga sudah merupakan “memberi”. Memberikan nasehat, solusi, menemani dan membantu pekerjaannya juga bentuk menolong sesama. Karena memberi dalam keterbatasan adalah lebih mulia dan percayalah Tuhan akan menggandakan talenta kita secara berlimpah limpah.

Dibalik itu semua terkadang dijaman sekarang ini banyak juga pengemis yang tidak layak ditolong. Mereka mengemis bukan karena mereka cacat dan renta tetapi bila dilihat dengan seksama memiliki fisik sempurna dan secara usia masih produktif dan kuat untuk bekerja dan mencari nafkah. Ada lagi mengemis gaya baru yang memanfaatkan teknologi, meminta-minta melalui medsos dengan menyampaikan nomor rekeningnya…merangkaikan kalimat prihatin dengan kata-kata sedih, di PHK, terpapar covid-19, PPKM darurat dan lain sebagainya.

Kita seharusnya tidak menahan kebaikan untuk memberi kepada orang yang layak menerimanya. Jangan berhitung untung rugi dalam memberi bantuan, apalagi kalau kita mampu melakukannya. Jika rela dan ikhlas berbagi dengan hati apalagi dengan segala keterbatasan kita, maka Tuhan akan melimpahkan berkat Nya bagi kita. Jangan selalu berdoa minta berkat tetapi enggan untuk jadi berkat. Kalau kita rela jadi berkat, maka hidup kita akan selalu diberkati. Amen. Gbu (daniel pasaribu)

Leave a Reply

Your email address will not be published.