Kehidupan Beragama Dalam Situasi Krisis

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1Korintus 9:25,27).

Kehidupan beragama dalam situasi krisis bagi mereka yang menjadikan agama sekedar ajaran akan sangat membosankan dan bahkan bisa membuat marah pada TUHAN, tetapi bagi mereka yang beragama dengan perubahan hidup menyeluruh akan menemukan kedamaian dan hikmat di tengah gejolak.

Ketika agama hanya dianggap obat pereda nyeri jiwa, yang sifatnya emosional atau transaksional dengan TUHAN, maka hanya bak candu yang tak membangun jiwa. Tetapi jika kita beragama dengan sepenuh hati, mengubah pola hidup kita dengan totalitas yang benar dan baik, maka agama akan membawa pencerahan.

Banyak orang suka beragama sebagai status sosial, pengetahuan doktriner, pelengkap identitas, tetapi tak banyak orang suka beragama yang mengubah secara holistik kehidupannya, baik latihan rohani, aktivitas fisik, kehidupan keluarga, cara bergaul, dan perilaku sehari-harinya. Beragamalah dengan totalitas.

Kita menghadapi banyak krisis, baik karena pandemi, kemajuan teknologi, tekanan ekonomi, atau tantangan sosial. Maka tidak cukup hanya beragama dengan berpikir, tetapi harus beragama dengan totalitas kehidupan, sehingga agama tak hanya sekedar doktrin tetapi spiritualitas yang menyegarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.