TENTANG PILIHAN IMAN

Kami percaya bahwa Allah menyelamatkan setiap orang
yang bersih tangannya dan suci hatinya,
yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh,
dan Allah memelihara semua orang beriman
dalam keluarga besar umat Allah,
sehingga kami memandang iman sebagai hubungan pribadi
antara orang percaya dan Allah
yang didasarkan hati nurani, akal sehat, dan pengalamannya
tanpa kekerasan dan pemaksaan
(Butir Ketujuh Kepercayaan Dasar Kristen Unitarian Indonesia)

download (4)

Pertanggung Jawaban Pribadi
Kabar keselamatan yang disampaikan oleh Yesus Kristus bukanlah keselamatan berdasarkan kelompok (institusional) tetapi keselamatan bagi “setiap orang yang percaya”, yaitu keselamatan yang bersifat pribadi (lihat Yohanes 3:16). Yesus menyadari potensi munculnya pengikut yang bersifat massal. Dengan segala kedalaman ajaran, keajaiban perbuatan, kebaikan teladan hidup dan kesucian diri, Yesus layak disebut sebagai guru agung segala zaman. Pengikut akan berbondong-bondong datang. Tetapi Yesus tetap tegas menyatakan : “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: tuhan, tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga” (Matius 7:21). Yesus tidak pernah membangun keselamatan berbasis institusi, yang memberi jaminan “sekali selamat tetap selamat” bagi anggotanya, melainkan keselamatan berdasarkan iman secara pribadi. Sikap Yesus ini mengingatkan kita pada amaran Allah melalui Nabi Yehezkiel : “dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka” (Yehezkiel 14:20).
Dengan demikian kita tidak akan mengijinkan institusi gereja atau keagamaan mengambil tempat Allah. Ketaatan iman seorang Kristen Unitarian hanya tertuju kepada Allah, dan bukan kepada manusia atau institusi agama seperti apapun (Kisah 5:27-29). Sejarah agama penyembah Allah esa, telah dipenuhi dengan bukti-bukti tirani agama. Nabi-nabi yang benar dibunuh oleh kedegilan pemimpin agama Yahudi (Matius 23:29-37), termasuk penolakan kepada Mesias yang agung, Yesus Kristus. Setelah injil dibebaskan dari tirani agama Yahudi (Matius 21:43), ternyata Kekristenan pun kemudian membuat juga tirani agama. Masa kekuasaan gabungan Romawi Kristen selama 1260 tahun adalah masa kegelapan yang penuh penganiayaan terhadap orang-orang kudus (Daniel 7:25; Wahyu 6:9). Sejarah yang sama terulang di dalam agama samawi yang selanjutnya Islam, maupun di dalam reformasi protestan sendiri. Penguasa agama yang berkoalisi dengan penguasa politik, menjadikan tirani agama sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan. Tidak heran muncul pengucilan, penganiayaan bahkan pembunuhan atas nama Allah (Yohanes 16:2,3).
Bukan berarti kita tidak membangun persekutuan yang kuat. Persekutuan itu dibutuhkan sebagai tempat untuk saling membangun dan menguatkan (Ibrani 10:25). Kita butuh bersekutu untuk menciptakan ibadah yang membangun, pendidikan karakter yang kuat, jaringan sosial yang bersatu, dan menyuarakan dengan lantang amaran firman Allah. Tetapi institusi agama harus dipandang sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan. Tujuan kita tetap adalah mendidik manusia-manusia kepunyaan Allah, bukan manusia-manusia kepunyaan gereja (2Timotius 3:17). Institusi agama juga harus dibebaskan dari jerat-jerat kompromi, yang telah mengacaukan sejarah agama. Institusi agama harus menjauhkan diri dari motif-motif politik praktis dan bisnis praktis. Institusi agama harus tetap berpijak pada posisinya sebagai penjaga moral, dan para agamawan haruslah menjadi teladan bagi umat (Kisah 20:28).
Dengan demikian gereja akan dapat menghormati dan memfasilitasi pertumbuhan kerohanian seseorang, sampai tercapai kesatuan iman, kedewasaan rohani, pengenalan yang benar akan Anak Allah dan kesempurnaan Kristus (Efesus 4:13). Gereja akan menghormati hati nurani, penyelidikan, dan pengalaman rohani setiap anggotanya, yang akan dipertanggung jawabkan kepada Allah (Yeremia 17:10; Pengkhotbah 12:13,14). Ketertiban tetap akan dijaga, supaya jangan ada orang yang berbicara dan berbuat seenaknya sendiri, dan menjadi batu sandungan bagi orang lain (1Tesalonika 5:14; 1Korintus 8:9). Tetapi, ketertiban akan dijaga seperti sebuah keluarga, dan bukan seperti penguasa yang bertangan besi (1Timotius 5:1; 2Tesalonika 3:14,15).

Keluarga Besar Umat Allah
Karena Allah kita esa, dan karena iman itu adalah hal pribadi antara Allah dan seorang manusia, maka kita percaya bahwa keselamatan disediakan Allah bagi semua manusia. Yesus bukan hanya juruselamat orang Kristen saja, tetapi juruselamat seluruh dunia (1Yohanes 2:2). Yesus juga bukan hanya gembala bagi satu kandang saja, melainkan banyak dombanya yang ada di kandang lain (Yohanes 10:16). Pernyataan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup untuk mengenal Bapa (Yohanes 14:6), tidak akan kita baca sebagai perintah untuk mengkristenkan seluruh dunia, karena toh Yesus sendiri tidak pernah mendirikan institusi agama Kristen. Kita tidak dapat bersepakat dengan paham extra ecclesia nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) atau “di luar Kekristenan tidak ada keselamatan”. Perintah agung pemuridan Yesus (Matius 28:19,20) kita pahami sebagai tugas untuk memperkenalkan Yesus dan untuk membuat seluruh dunia memiliki “pikiran dan perasaan Yesus” (Filipi 2:5), dan bukan perintah kristenisasi.
Perubahan yang kita tuju bukanlah perubahan kuantitatif atas bertambah banyaknya jumlah orang di dalam institusi gereja, tetapi perubahan kualitatif atas banyaknya orang yang karakternya mengarah kepada karakter Yesus. Apalah gunanya menjadikan seluruh dunia mengikuti agama kita, tetapi mereka menjadi semakin jahat (Matius 23:15)? Tugas penginjilan kita bukanlah untuk membuat semua orang menjadi anggota agama kita, tetapi adalah untuk membuat setiap orang mengenal kebaikan Bapa, Allah yang esa, dan Yesus, tuhan kita (Yohanes 17:3), mengasihi Allah dengan segenap hati, dan mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri (Markus 12:29-31). Beragama adalah pilihan penuh kesadaran, tanpa pemaksaan, tipu daya atau kekerasan.
Karena kita menyadari bahwa kebenaran adalah milik Allah, maka kita tidak akan pernah mau untuk mengklaim diri dan gereja kita sebagai yang paling benar. Pengetahuan kita dibandingkan seluruh kebenaran Allah adalah seperti jauhnya bumi dari langit (Yesaya 55:9). Kesalehan kita dibandingkan dengan kekudusan Allah adalah seperti kain kotor (Yesaya 64:6). Maka kita tidak pernah berhak untuk menghakimi “kebenaran” dan “keselamatan” orang lain (Matius 5:22; 7:1-5). Itulah sebabnya kita perlu membuka diri untuk mendengar apa yang dimengerti oleh orang lain sebagai “kebenaran”, baru kemudian mengujinya (1Tesalonika 5:21). Kita tidak akan menjadi seorang sinkretis yang menggabung-gabungkan berbagai ajaran, tetapi seorang toleran yang mengijinkan perbedaan, mendengarkan perbedaan dan berdialog dengan sehat di antara perbedaan.
Kita percaya bahwa suatu saat, Allah akan menghimpunkan orang yang tidak terhitung banyaknya, dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa (Wahyu 6:9). Mereka semua tidak lagi membawa sekat-sekat institusi agamanya, tetapi menjadi keluarga besar umat Allah. Ciri mereka adalah pertobatan dan kemurnian (Wahyu 22:14; 14:4,5; Mazmur 24:3,4). Apakah anda telah memiliki iman secara pribadi yang penuh kesadaran?

Leave a Reply

Your email address will not be published.